Telusuri Jejak Kengerian Penjajah Belanda di Gerbong Maut Malang

Menjadi salah satu kota wisata yang populer di Indonesia, Malang sangat signifikan menyedot perhatian turis lokal maupun mancanegara. Tahun 2015, Malang mencatat angka 3.290.060 wisatawan lokal dan 8.265 orang turis asing. Angka ini naik signifikan pada 2016 dengan jumlah 3.987.074 wisatawan lokal dan 9.535 orang turis asing. Angka itu lalu membengkak sekitar 10 persen pada tahun 2017.

Hal ini ditandai dengan adanya ekspansi ke Amerika dan Timur Tengah untuk semakin melipatgandakan jumlah turis asing pada tahun-tahun mendatang. Malang pun terus bersolek dengan keindahan destinasinya yang akan memanjakan jutaan orang.

Termasuk infrastruktur dan akses dari dan ke Malang yang terus ditingkatkan. Ini semua demi kenyamanan siapa saja yang akan berkunjung ke Malang.  Kunjungan wisatawan itu juga akan berdampak pada harga hotel di Malang yang sangat bervariasi. Hotel-hotel murah berseliweran di kota ini. Sampai hotel bintang 5 juga terus memenuhi Malang. Maka, Anda tak perlu ragu lagi untuk mengunjungi Malang, yang dari dulu sudah menawarkan segudang destinasi menarik untuk memanjakan liburan Anda.

Berlibur sambil tetap punya quality time dengan keluarga, tepat jika Anda ke salah satu kota besar di Jawa Timur ini. Apalagi, saat ini kemajuan teknologi informasi sangat pesat, yang begitu memudahkan Anda mengakses segala hal, khususnya destinasi wisata yang akan dukunjungi. Informasi tentang reservasi hotel di Malang pun akan sangat mudah anda dapatkan, untuk menyusun biaya perjalanan Anda. Jika ke Malang, salah satu hotel yang tepat untuk menjadi tempat singgah Anda adalah Hotel Aria Gajayana.

Jika Anda sedang berwisata, melakukan perjalanan dinas atau bisnis ke Kota Apel, Malang, hotel ini sangat direferensikan untuk tempat menginap Anda. Hotel bintang 4 yang ada di Jalan Kawi No. 24 ini, akan memanjakan Anda dengan berbagai fasilitas premium yang dimilikinya. Akses menuju semua pusat keramaian di Malang juga sangat mudah jika dimulai dari sini. Silahkan ke Museum Brawijaya, Stadion Gajayana, Gereja Katedral Malang, dan banyak destinasi kuliner enak, bisa Anda temui tak jauh dari hotel ini.

Untuk mengunjungi Museum Brawijaya di Jalan Ijen No 25, Anda tak perlu banyak buang waktu, tenaga apalagi uang. Karena, lokasinya tak jauh dari Hotel Aria Gajayana.

Ini adalah lokasi wisata edukasi untuk menambah wawasan dan pengetahuan Anda. Museum Brawijaya menyimpan ‘Gerbong Maut’ yang menyiratkan kekejian penjajah Belanda di Tanah Air. Saat itu, banyak orang meninggal dalam gerbong ini. Karena, gerbong yang ditarik kereta itu tak memiliki ventilasi udara. Jika Anda mengunjungi gerbong ini, aura seram yang mencekam dapat dirasakan, bagaimana penderitaan masyarakat Indonesia kala itu.

Gerbong itu kini ditempatkan di halaman belakang Museum Brawijaya. Dari luar, penampakan gerbong hitam dengan corak abu-abu dan putih itu terlihat cukup terawat dengan baik. Tidak usang. Catnya masih terang utuh, termasuk seluruh rangka besinya. Gerbong ini menyiratkan duka bangsa ini.

Tahun 1947, dua tahun setelah Indonesia merdeka, terjadi Agresi Militer Belanda ke 2. Gerilyawan dan pemuda yang tak ingin kemerdekaan Indonesia tercoreng, akhirnya bangkit melawan. Perlawanan sengit terjadi di Bondowoso. Sayang, kekuatan senjata yang tak seimbang, akhirnya para pemuda dan geriliawan itu ditangkap dan ditawan.

Karena penjara Bondowoso yang sudah tak bisa lagi menampung tahanan yang ada, sekitar 100 pentolan yang dianggap paling berpengaruh dari perlawanan itu akhirnya dipindahkan ke Penjara Bubutan Surabaya, pada tanggal 23 November.

Pagi itu, jam 5 subuh, dari Stasiun Bondowoso mereka diangkut dengan tiga gerbong kereta bernomor seri GR5769, GR10152, dan GR4416 tanpa makan dan minum. Mereka tiba di Stasiun Wonokromo, Surabaya jam 8 malam. Perjalanan 16 jam itu membawa tahanan pada maut.

Karena sesaknya isi gerbong dan udara yang panas tanpa ventilasi itu, sebagian dari mereka lemas dan pingsan. Udara panas, dan pengap dalam gerbong baja tebal itu membuat tawanan seolah dipanggang dalam oven. Kulit mereka melepuh dan mengelupas. Banyak yang saling menempel.

Kurungan itu serasa jadi arena pembantaian, karena sepanjang perjalanan mereka meminta makanan, air minum, termasuk udara, tapi sedikitpun tak diindahkan Belanda. Anda yang ingin menapaki sejarah kekejaman Agresi Militer Belanda ini, dapat segera cek harga hotel di Malang dan mulailah menelusuri Museum Brawijaya.

Gerbong yang kini diabadikan di Museum Brawijaya ini yang bernomor seri GR10152. Ini adalah gerbong paling baru dari 2 gerbong lain, dengan kapasitas tampungan lebih besar. Gerbong inilah yang paling banyak memakan nyawa. Hal ini karena 2 gerbong lainnya tersedia lubang ventilasi kecil, dimana para tawanan bisa secara bergantian menghirup udara dari sana.

Kondisi ini sangat berbeda dengan gerbong GR10152 yang tak ada lubang sama sekali. Sangat rapat. Dari 100 orang yang dijejal di dalamnya, 11 orang luka berat, 31 orang yang sakit, dan yang lolos hanya 12 orang. Artinya, 46 orang sisanya adalah mereka yang tewas.

Kekejian penjajah Belanda itu kemudian dikisahkan oleh Suryo, salah satu korban yang selamat. Mereka yang berteriak meminta makanan, air dan udara memang sengaja tak dihiaraukan, karena secara terang-terangan, Belanda ingin agar mereka yang meninggal lebih banyak. Agar, tugas mereka untuk menampung para tawanan di Surabaya semakin ringan.

Destinasi ini sangat menohok rasa nasionalisme Anda, khususnya para pelajar, mahasiswa dan anak-anak. Silakan mencari Harga hotel di Malang untuk menambah wawasan sejarah kebangsaan Anda melalui liburan di destinasi wisata ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *